6 November 2014
06.35 a.m
Pagi yang cerah di kota Temanggung. Burung-burung yang berkicau riang itu membangunkan Hera dari tidur nyenyak di rumahnya.
"Pagi ma.." sapa Hera kepada mamanya begitu turun ke meja makan untuk sarapan bersama keluarga. "Pagi sayang." Jawab sang mama. "Papa mana?" Tanya Hera menyadari ketidakberadaan papanya. "Papa kamu kan keluar kota. Oiya, kamu di rumah berapa hari?" Tanya mama kemudian. "Besok sore aku balik ke Jogja ma. Soalnya ada tambahan kuliah." Jawab Hera disusul wajah manyun dari mamanya. Hera pun memeluk mamanya dan membuat senyuman kembali merekah. "Nanti anterin kue ke Bu Rika ya." Pinta sang mama kepada Hera. Hera tak sanggup menolak karena Bu Rika adalah ibunya Fahmi. "Coba kamu lihat di garasi ada apa." Ucap sang mama membuat Hera penasaran. Dia melangkahkan kakinya menuju garasi. Dan ketika dia membuak pintu, terpampang mobil pink bermotif HelloKitty ada di hadapannya.
Siang itu Hera sengaja datang ke rumah Fahmi untuk mengantar kue dan menengok Fahmi juga. Seperti biasa, Hera langsung masuk ke kamar Fahmi dan tidur-tiduran disana. Dia sudah tidak sabar untuk menceritakan kebahagiaan yang ia rasakan. Begitu Fahmi membuka pintu kamarnya, dia mendapati makhluk cantik sudah nangkring di tempat tidurnya yang rapi. "Selamat siang adekku, baru pulang sekolah ya?" Sapa Hera dengan wajah sok imut. Fahmi menyuringkan wajahnya. "Mbak kesini mau nagih kado ulang tahun?" Tanya Fahmi to the point. "Ya ampun, aku udah dapet kado dari Tuhan kali.." ucap Hera berbunga-bunga. "Apa?" Tanya Fahmi penasaran. "Seseorang yang special." Jawab Hera. Fahmi tersenyum dan mengira orang special itu adalah dirinya. "Siapa?" Pancing Fahmi. "Rio." Jawab Hera senang. Sontak Fahmi sangat terkejut dan terlihat guratan kecewa sakit hati dari wajahnya, tapi Hera tak menyadari itu. "Ntar sore aku mau pergi sama Rio. Pilihin aku baju ya.." pinta Hera sambil mengeluarkan baju-bajunya dari dalam tas. Dengan berat hati, Fahmi menganggukkan kepalanya. Ini yang membuat Hera bahagia, bukan Fahmi atau siapapun tapi Rio, hanya Rio.
***
Mobil berwarna merah mengkilap itu memasuki halaman rumah Rio. "Rio cuma milik aku." Gumam Dinda sebelum masuk ke dalam rumah. Dinda kemudian masuk dan mencari keberadaan Rio. Ketika itu Rio terlihat merapikan dirinya untuk pergi bersama Hera. "Mau kemana?" Tanya Dinda begitu melihat Rio menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. "Bukan urusan kamu." Jawab Rio ketus. "Jelas ini urusanku lah sayang, kamu kan calon suamiku." Jawab Dinda sembari memeluk Rio dari belakang. Rio melepaskan pelukan Dinda dengan kasar, hingga Dinda terhempas ke tepi ranjang. "Mimpi kamu?" Ejek Rio. "Ohh kamu nggak kasihan sama jabang bayi di dalam rahimku?" Balas Dinda sembari mengelus perutnya. "Buat apa? Dia bukan anakku." Ucap Rio menekan. "Rupanya kamu udah tahu. Ini akibat kenapa kamu ninggalin aku dulu." Ucap Dinda sembari beranjak dan berdiri di hadapan Rio. "Ayah kamu adalah tipe orang yang menjaga kehormatan keluarga dan nama baiknya. Apalagi ayah kamu masih keturunan keraton. Kalau semua orang tahu bahwa anaknya menghamili seorang wanita, hahaha betapa malunya dia. Jadi, mudah banget buat aku manfaatin ayah kamu." Lanjut Dinda membuat Rio serasa ingin membunuh wanita di hadapannya. "Wow hebat! Sandiwara yang spektakuler!" Puji Rio sinis. "Saat pernikahan kita nanti, jangan berani kabur atau keluarga kamu menanggung malu seumur hidup." Ancam Dinda kemudian pergi meninggalkan Rio yang geram dengan rencana liciknya. Rio menghantap cermin rias di sampingnya hingga pecah dan darah bercucuran di jarinya. Karena dia ingat ada janji dengan Hera, dia segera melajukan mobilnya ke rumah Hera. Tapi rupanya Hera tidak ada di rumah dan kebetulan sekali tiba-tiba sms Hera masuk bahwa dirinya sekarang ada di rumah Fahmi.
***
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Hera begitu tahu bahwa tangan Rio sedang terluka. "Ohh tadi kena pecahan kaca." Jawab Rio sembari menyembunyikan tangannya yang berdarah. "Ini nggak boleh dibiarin, aku beli obat dulu." Hera kemudian meninggalkan Rio sendiri di restoran itu. Setelah Hera kembali, ia segera mengobati tangn Rio. "Besok ulang tahunmu kan?" Tanya Rio sambil menahan rasa perih di tangannya. "Iya." Jawab Hera singkat dan fokus mengobati tangan Rio. "Mau minta kado apa?" Tanya Rio antusias. Hera menggeleng malu. "Kalau hadiahnya aku sebagai pacar kamu bahkan calon suamimu bagaimana?" Tanya Rio membuat Hera terkejut. "Aku terima." Jawab Hera sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.
Sementara itu, Fahmi melajukan mobilnya untuk menemui Dinda di sebuah cafe. "Ada apa?" Tanya Dinda begitu melihat batang hidung Fahmi. "Aku mau ngobrol serius tentang aku, kamu, Rio dan Hera." Jawab Fahmi. "Hera? Kenapa Hera?" Tanya Dinda terheran. "Hera dan Rio sekarang semakin dekat." Jawab Fahmi membuat Dinda terbelalak. "Jadi aku minta tolong sama kamu. Tolong kamu pergi dari kehidupan mereka." Lanjut Fahmi. "Apa? Pergi? Kamu pikir aku ini apa hah?! Sampah buat mereka? Dulu, Rio milih aku daripada Hera. Sekarang dia milih Hera wanita yang masih suci dan Rio ninggalin aku sedangkan aku mengandung anaknya! Trus kamu minta buat aku pergi?" Kini emosi Dinda makin memucak. "Iya. Kamu harus pergi." Jawab Fahmi kemudian meninggalkan Dinda yang terus memakinya. Itulah cara Fahmi mencintai Hera, dia rela melakukan apapun demi kebahagiaan orang yang dia cintai. Dia berhenti di sebuah toko kue, tiba-tiba Hera menelponnya.
***
Rio memberhentikan mobilnya di depan rumah Hera. "Makasih buat hari ini." Ucap Rio tersenyum seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Hera. Hampir saja Hera terlarut ke dalam ciuman Rio tapi tiba-tiba dia terbayang sosok yang membuatnya untuk mendorong tubuh Rio menjauh darinya. Rio sedikit malu karena Hera menolak ciuman darinya. "Besok aku antar kamu balik ke Jogja." Ucap Rio mengalihkan suasana. Hera pun mengangguk kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Entah kenapa ada perasaan aneh di dalam diri Hera. Bukankah dia menjaga bibirnya hanya untuk Rio selama ini, dan berharap Rio adalah first kissnya. Tapi kenapa bayang-bayang Fahmi mengganggunya? Seolah-olah dia tidak mau mengecewakan Fahmi. Hera pun kemudian menelpon Fahmi, dan rupanya Fahmi sekarang ada di danau. Hera segera menyusulnya dengan menggunakan mobil pink yang baru dia dapatkan dari orangtuanya.
"Fahmi!" panggil Hera dari kejauhan. Hera berlari menghampiri Fahmi di tepian danau. "Sekarang jam berapa?" tanya Fahmi begitu Hera sampai di hadapannya. Hera melihat jam di ponsel. "Jam sebelas lebih lima belas." jawab Hera. "Sebentar lagi hari ulang tahun kamu kan mbak?!" "Iya." "Yaudah. Kita menghabiskan waktu disini aja." pinta Fahmi dan Hera pun mengangguk. "Fahmi..." panggil Hera lirih. "Apa?" tanyanya. "Tadi Rio mau menciumku." ucap Hera membuat Fahmi menoleh seketika. "Trus?" tanya Fahmi dengan tetap mempertahankan raut muka datar, padahal di dalam hatinya muncul gejolak cemburu. "Aku nolak."jawab Hera singkat. "Kenapa?" Hera terdiam. Bahkan dia ikut bertanya pada dirinya sendiri, kenapa dia menolaknya. Bukankah itu yang dia inginkan?! "Aku belum siap. Aku kan belum pengalaman, kamu aja tahu kalo Rio cinta pertamaku. Jadi, aku pengen mempersiapkan diri biar first kissku sama Rio special." jawab Hera beralasan. "Trus?" tanya Fahmi memperjelas. "Ini detik-detik pergantian waktu ulang tahunku kan? Jadi, aku mau minta kado dari kamu.." "Kado apa?" "Ajari aku berciuman.." pinta Hera dengan kedua tangannya mengatup dibawah dagu.
Bersambung....
Cerpen Gue.
Kamis, 30 Oktober 2014
Sabtu, 18 Oktober 2014
Cinta Dalam Hati part 3 (Trilogi)
5 November 2014
Hari demi hari berlalu, Fahmi dan Hera
mejalani kesibukannya masing-masing. Fahmi yang fokus UN dan Hera yang fokus
dengan kuliahnya. Komunikasi? Walaupun masih berlangsung, tapi tidak sesering
dulu. Begitu pula dengan kehidupan Rio, yang dulu semula baik-baik saja tapi
sekarang benar-benar mengalami banyak masalah setelah putus dengan Dinda 3
bulan yang lalu.
Paarrr!!! Sebuah tamparan dahsyat mendarat di
pipi Rio. Tamparan yang selama ini belum pernah ia dapatkan dari sang Ayah.
“Yah, aku nggak menghamili Dinda. Aku berani sumpah!” ucap Rio menyangkal
tuduhan Ayahnya. “Pokoknya minggu depan kamu harus menikah dengan Dinda,
titik.” Bentak sang Ayah bersikuekuh. Rio kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
Dia melajukan mobilnya entah kemana dan pada akhirnya dia bertemu dengan Fahmi
di cafe sekaligus mendapatkan alamat kos Hera. Itulah alasan mengapa Rio sudah
berdiri di depan pintu kamar kos Hera. Rio mengetuk pintu, tak berapa lama pintu itu terbuka. Betapa terkejutnya Hera ketika orang yang selama ini dia harapkan sekarang berada di hadapannya. "Rio." panggil Hera tak percaya. "Aku boleh masuk?" tanya Rio. Hera pun mempersilahkan Rio masuk ke kamarnya. "Mau minum apa?" tawar Hera canggung karena baru pertama kali Rio mengunjunginya. "Apa aja." jawab Rio. Hera kemudian beranjak membuat minuman. Dia menuangkan teh ke dalam cangkir, mengaduk minuman itu sembari benaknya bertanya-tanya, untuk apa Rio kemari? Apa Rio sudah menyadari perasaannya? Begitu pikir Hera. Hera menghampiri Rio dan memberikan teh itu untuknya. "Kabarmu gimana?" tanya Hera memecahkan keheningan. "Aku baik. Kamu?" tanya Rio balik. "Aku juga baik." jawab Hera singkat. Suasanapun kembali hening. Tidak ada percakapan karena suasana yang masih canggung di antara keduanya. Hera yang selama tiga tahun mencintai Rio sedangkan Rio tidak memperdulikannya, sekarang Rio berada di hadapannya. Tentu membuat Hera syok sekaligus senang. "Ada kuliah hari ini?" tanya Rio kemudian. "Enggak. Besok aku pulang, ada acara special soalnya." jawab Hera. "Kalo gitu besok pulangnya barengan aja. Tapi malam ini aku boleh nginep disini nggak?" pinta Rio. "Boleh sih, tapi ini kan satu kamar doang." "Aku tidur di mobil kok. Emm... ke pantai yuk!" Ajak Rio. Hera tersenyum dan mengiyakan ajakannya. Hari itu mereka bersenang-senang di pantai. Harapan yang mustahil terwujud, kini telah Hera rasakan. Itu artinya tidak sia-sia Hera menunggu. Perhatian dari Rio yang selama ini mustahil dia harapkan, sekarang telah menjadi kenyataan.
Matahari mulai membenamkan diri, rasa bahagia yang Hera rasakan ketika bersama Rio masih menggebu-gebu. Saling canda tawa bersama orang yang dicintai, semuanya terasa seperti mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan. "Hera maaf." celetuk Rio di tengah lamunan mereka melihat matahari terbenam. "Why?" tanya Hera. "Aku udah ngebuat kamu nunggu lama. Aku baru sadar kalo disini ada seseorang yang tulus cinta sama aku, wanita baik-baik dan wanita setia itu adalah kamu. Aku seperti laki-laki bodoh, menyia-nyiakan kamu. Jadi, apa perasaan kamu masih kayak yang dulu?" Rio mengutarakan perasaanya, membuat Hera sedikit tercengang. Hera tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba dia teringat dengan seseorang yang sempat membawanya ke pantai ini kemarin. Seseorang yang menjadi sandaran ketika dia menangis, seseorang yang selalu bersamanya, seseorang yang menemaninya pergi kemanapun, dan seseorang itu adalah Fahmi. Serasa hati dan logika Hera bertolak belakang. Bukankah ini yang di harapkan Hera selama tiga tahun? Tapi kenapa hatinya seperti ini? Ada perasaan aneh di dalam hatinya. "Iya. Masih." jawab Hera linglung. Rio menyunggingkan senyum di bibirnya seraya memeluk Hera perlahan. Rio membelai lembut rambut lurus Hera, membuat Hera melumer. Walaupun sedari tadi bayang-bayang Fahmi mengganggu pikirannya, tapi pelukan Rio membuatnya luluh. "Ini nggak mimpi kan?" tanya Hera ketika pelukan Rio terlepas. "Enggak.." jawab Rio mantap.
***
Fahmi membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur, mencoba untuk memejamkan mata tapi tetap saja ia tak bisa tidur. Bayang-bayang Hera yang selalu mengganggu tidurnya, apalagi tanggal 7 November nanti adalah ulang tahun Hera yang ke 19. Dia ingin memberikan kado special yang akan membuat Hera terkesan. Dia ingin hanya dia satu-satunya laki-laki yang paling special di hari ulang tahunnya, tapi apakah mungkin? Jelas-jelas tadi siang Rio meminta alamat kos Hera, itu artinya ada jalan di antara mereka untuk bersatu. Disaat Fahmi bersikeras mencoba untuk tidur, tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya panggilan masuk dari Dinda. "Ada apa, Din?" tanya Fahmi begitu mengangkat telepon. "Rio ada di rumah kamu?" tanya Dinda dengan tangis terisak yang di buat-buat. "Enggak. Emangnya kenapa?" tanya Fahmi penasaran. "Kalau malam ini kita bisa ketemu, aku bakal ceritain semuanya." jawab Dinda. Telepon pun diputus dan mereka janjian bertemu di salah satu restoran terdekat. Fahmi sangat yakin ini pasti ada hubungannya dengan Hera, dan ia tak mau terjadi apa-apa dengannya. Fahmi akan melindungi Hera dari segala bentuk permasalahan yang timbul dari Rio dan Dinda nantinya. Sesampai di restoran, Fahmi mencari nomor meja yang memang sudah dipesan, kemudian menghampiri meja itu. "Dinda," sapa Fahmi dari belakang, Dinda pun menoleh dan mempersilahkan Fahmi duduk. "Fahmi, aku hamil..." tanpa ditanya terlebih dahulu, Dinda langsung menjelaskan maksud pertemuan mereka. "Siapa yang menghamili kamu?" tanya Fahmi tercengang. "Rio." jawab Dinda lirih. Betapa lebih tercengangnya Fahmi mendengar bahwa yang menghamili Dinda adalah Rio. Tapi sebenarnya, Fahmi tidak sedang mencemaskan Dinda, justru yang ia cemaskan adalah Hera karena dia yakin, pasti sekarang Hera sedang bersama Rio. "Trus Rio gimana?" tanya Fahmi mengorek lebih dalam lagi. "Rio pergi entah kemana. Makanya tadi aku telepon kamu." jawab Dinda. Fahmi masih tidak percaya bahwa Rio bisa melakukan hal sekeji itu, tapi bila manusia sudah dikuasai oleh nafsu apapun memang mudah saja terjadi. Fahmi masih mengunci mulut atas keberadaan Rio yang sekarang sedang bersama Hera. "Tapi dalam minggu depan aku dan Rio akan menikah." celetuk Dinda yang membuat hati Fahmi melega. "Nikah muda?" tanya Fahmi. "Iya lah, kan kasihan baby dalam perut aku.." jawab Dinda sambil mengelus perutnya yang masih rata. "Kamu yakin itu anaknya Rio?" tanya Fahmi memastikan membuat mata Dinda mendelik. "Ya iya lah, aku kan pacarnya." jawab Dinda ketus. Padahal Fahmi tahu kalau mereka sudah putus tiga bulan yang lalu, apa mungkin balikan lagi? Entahlah.. pikir Fahmi. Di sela-sela makan, Dinda mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Rio. Dia menekan sent dan pesan itu berhasil dikirim. Dinda mengembangkan senyum licik, seolah-olah hanya dia pemenangnya...
***
Malam itu, Rio dan Hera masih dalam perjalanan pulang. Ponsel Rio bergetar menerima sms dari Dinda.
From: Dinda
10.18 P.M
Rio, kalau kamu tidak pulang besok, lihat kejutan apa yang bakal kamu lihat di keluarga kamu. Nama baik keluarga kamu, terutama ayah kamu akan hancur sehancur-hancurnya.
Shiiitt... batin Rio mengumpat setelah membaca pesan itu. Padahal dia berniat untuk tidak pulang dan hanya mengantar Hera ke rumahnya. Kesal? Jelas. Kalaupun dia mau, dia ingin membunuh Dinda, tapi dia masih punya hati. Apalagi sekarang ada seseorang yang mencintai dia disampingnya. Rio benar-benar tidak ingin kehilangan Hera...
Bersambung.....
***
Malam itu, Rio dan Hera masih dalam perjalanan pulang. Ponsel Rio bergetar menerima sms dari Dinda.
From: Dinda
10.18 P.M
Rio, kalau kamu tidak pulang besok, lihat kejutan apa yang bakal kamu lihat di keluarga kamu. Nama baik keluarga kamu, terutama ayah kamu akan hancur sehancur-hancurnya.
Shiiitt... batin Rio mengumpat setelah membaca pesan itu. Padahal dia berniat untuk tidak pulang dan hanya mengantar Hera ke rumahnya. Kesal? Jelas. Kalaupun dia mau, dia ingin membunuh Dinda, tapi dia masih punya hati. Apalagi sekarang ada seseorang yang mencintai dia disampingnya. Rio benar-benar tidak ingin kehilangan Hera...
Bersambung.....
Kamis, 16 Oktober 2014
Hera's Diary part 1 dan 2 (Cinta Dalam Hati)
Hohoho.. perasaan apa ini? Aku merindukan
Fahmi. Merindukan sosok adik yang mengasyikkan sekaligus membuatku merasa
damai. Tiap malam aku hampir tak bisa tidur karena merindukan Fahmi. Malam ini
aku mencoba memejamkan mata dan sedikit demi sedikit, aku mulai terlelap. Entah
mimpi apa aku semalam, pagi-pagi sehabis aku mandi tiba-tiba makhluk tampan
yang aku rindukan sudah berada di kamarku dengan memegang bra-ku di tangannya.
Sial. Apa-apaan bocah ini! Membuatku benar-benar malu.
Aku ucapkan banyak terimakasih atas hadiah
dari Ibumu, aku menyukainya. Disaat kamu mengunjungiku, aku harus kuliah pagi.
Selama mata kuliah berlangsung yang ada di pikiranku adalah aku ingin segera
pulang dan menemui Fahmi. Tapi tetap saja waktu berjalan sangat lambat. Apa mungkin
perasaanku saja??
Astaga! Siang-siang begini tidur? Mimpi apa
kamu barusan sampai-sampai mengajakku camping ke pantai Parangtritis?! Kenapa
kamu mengabulkan impianku hah? Aku sangat berterimakasih atas semua yang kamu
lakukan. Walaupun aku masih mencintai Rio, tapi jalanku untuk melupakannya akan
terasa lebih mudah jika aku bersamamu.
Sebenarnya di tenda itu aku belum begitu pulas
tertidur, dan aku merasakan hembusan nafas lembutmu mengenai wajahku. Aku harap
kamu tidak mendengar detak jantungku yang berdegup sekeras soundsystem. Tapi
kenapa? Kenapa kamu berniat menciumku? Apa kamu tidak ingat bahwa aku ini
kakakmu? Aku sedikit merasa bersalah, tapi aku juga kecewa begitu tahu kamu
mengurungkan niatmu. Ahhh sudahlah. Melihatmu yang tertidur membelakangiku,
bagiku itu sudah cukup.
Ketika aku bangun, aku masih teringat
bayang-bayang tadi malam. Aku masih bertanya-tanya, kenapa seseorang yang sudah
aku anggap seperti adikku sendiri berniat untuk mencium kakaknya? Tapi aku
anggap itu hanya angin lalu, dan aku bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Aku sebenarnya berat ditinggalkan sendiri lagi
disini, tapi demi kamu yang berjuang lulus UN jadi aku rela. Berjuanglah
adikku!!!
Cinta Dalam Hati part 2
Aku masih bertanya-tanya, kenapa Hera menuliskan namaku di diarynya. Aku meletakkan buku diary itu di tempat semula, kemudian tertidur di atas kasur empuk milik Hera. "Heh.. bangun woi!!" tiba-tiba suara yang lebih dahsyat dari suara geledek itu menyambar gendang telingaku. Rupanya makhluk cantik itu sudah pulang dari kuliahnya. Jam menunjukkan pukul 11.30, perutku sudah terasa keroncongan, tapi aku ingat sesuatu di diary itu. "Mbak, main ke parangtritis yuk!" ajakku. Dia memicingkan sebelah matanya. Karena takut dicurigai, aku segera mencari-cari alasan. "Refreshing sebelum UN, mbak." Hera hanya tersenyum senang. Senyuman yang penuh arti dan membuat dadaku serasa mengembang penuh kebahagiaan. Walaupun dia kakak kelasku, tapi uurku lebih tua darinya dan hanya aku yang tahu. Hera tidak tahu kalau umurku lebih tua darinya. Saat aku berulang tahun, dia selalu bertanya berapa umurku tapi aku tidak menjawabnya. Setelah semuanya siap packing, aku dan Hera meluncur ke Parangtritis. Kami banyak mengobrol di mobil, tentunya menanyakan tentang Rio. Rio dan Rio.. serasa kepalaku ingin pecah mendengar nama itu keluar dari mulut Hera. Sudahlah, yang terpenting aku harus mewujudkan impian di diarynya. Malam itu kami duduk di tepian pantai, sesekali ombak datang menyentuh jari-jemari kaki. Melihatmu ada di sampingku saat ini, membuatku merasa damai. "Senyum-senyum sendiri.." godaku melihat Hera yang tersenyum, mungkin sedang membayangkan sesuatu. "Romantis ya.." celetuknya. Aku pun ikut tersenyum. "Andai kamu itu Rio, pasti...." ucapnya menggantung. "Tapi apa?" tanyaku sedikit kecewa. "Enggak.." jawabnya menggeleng. Aku meninggalkan Hera sendiri di tepi pantai. Aku berjalan menuju tenda dan membakar ikan untuk makan malam ini. Aku merasa sangat sakit, walaupun Hera sedang membayangkan bahwa aku ini Rio, aku tidak apa-apa. Tapi kenapa di buku diarynya itu tertulis namaku, bukan nama Rio? Setelah ikan matang, aku kembali duduk disampingnya sembari membawa ikan bakar. "Jangan terlalu mengharapkan sesuatu yang sulit terjadi. Rio nggak ada disini." celetukku. "Siapa juga yang ngebayangin Rio." sangkalnya sambil mencuil ikan bakar di tanganku.
Kini bintang-bintang yang bertaburan dilangit itu akan menjadi saksi bahwa aku mencintaimu. Walaupun rasa itu hanya di dalam hati dan tidak akan pernah aku utarakan. Tapi aku benar-benar tulus. "Mbak.." panggilku lirih. "Apa?" tanya Hera sembari menoleh ke arahku. "Mungkin ini yang terakhir, setelah aku pulang, aku akan fokus UN. Itu artinya kita bakalan jarang kayak gini lagi.." ucapku tertunduk. Terlihat ada goresan sedih di bibirnya tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum. "Semangat adikku. Ucapnya memberi semangat."
Hera menyandarkan kepalanya di bahuku, memandang hamparan laut lepas dan bintang-bintang yang menghiasi suasana malam ini. "Mbak, tidur di tenda gih.." bujukku melihat Hera yang sudah mulai mengantuk. "Lah kamu?" tanyanya. "Aku nggak tidur lah, kan aku laki-laki. Nah laki-laki harus menjaga perempuannya." jawabku. "Enggak. Pokoknya kamu harus tidur entar malem." protesnya. "Emm.. mbak duluan aja, ntar aku nyusul." jawabku. Hera kemudian pergi dan masuk ke dalam tenda. Aku menulis FH di pasir menggunakan jari telunjukku, tapi tulisan itu terhapus oleh ombak. Aku masih berada di bibir pantai, merenungi perasaanku. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan Hera. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan orang yang jelas-jelas mencintai orang lain. Aku beranjak menuju teda, rupanya Hera sudah tertidur pulas. Ku dekati wajahnya dan kupandangi sosok wanita cantik yang membuatku begitu mencintainya sekaligus membuatku terluka. Terasa hembusan nafasnya yang lembut mengenai wajahku. Aku yang semakin tergoda, berusaha mendekatkan wajahku lebih dekat lagi ke wajahnya. Aku tergoda dengan bibirnya yang manis itu, yang selalu mengomel cerewet. Ketika bibirku sudah berada sepersekian centi dari bibirnya, aku menjauhkan wajahku dari wajahnya. Ini salah! Bukan seperti ini cara mencintai wanita. Hera yang pernah bilang akan menjaga tubuhnya untuk suaminya kelak, aku tidak mungki menodainya walaupun hanya sebatas berciuman. Aku memutuskan berbaring di samping Hera dan membelakanginya demi mengusir dorongan yang tidak aku inginkan. Selamat malam Hera... Selamat tidur...
Seseorang mengoleng-olengkan tubuhku, "Fahmi bangun.." suara itu lebih lembut dari biasanya. Hera sudah nampak segar hari ini, melihat wajahnya yang sekarang ada di depan wajahku, membuatku ingat ketika aku terjebak dalam nafsu, tapi syukurlah aku bisa menahannya. Dan ini caraku mencintainya, menjaganya. Kami segera berkemas-kemas dan kembali ke kos sekaligus aku berpamitan pulang. Ada perasaan berat ketika aku harus meninggalkannya sendiri, tapi aku harus pulang. Demi UN dan demi kamu, Hera Yudhistira. Jaga dirimu baik-baik...
****
Sepulang sekolah, ku belokkan motorku ke kafe, tempat dimana aku dan Hera bersama dulu. Sendiri, mengenang sosok kakak yang aku cintai. "Fahmi!" seseorang menyapaku. Seseorang itu kemudian duduk dihadapanku, dia adalah Rio. "Kabar kamu gimana?" tanya Rio. "Aku baik. Mas Rio sendiri?" tanyaku balik. "Aku juga baik." jawabnya. Rio terlihat gugup, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. "Bagaimana kabar Hera?" tanyanya kemudian. "Baik. Tumben nanyain mas?" tanyaku penasaran. "Enggak.. cuma pengen tahu kabar dia aja." jawabnya. Apa mungkin perkataan Hera benar bahwa Rio akan menyadari perasaannya suatu saat nanti, dan inilah saatnya. Ada sedikit rasa tak rela, tapi ini yang di inginkan Hera. Bisa lebih dekat dengan Rio adalah impiannya selama tiga tahun. Aku tidak mungkin membentengi sesuatu yang di idam-idamkan Hera. Aku masih ingat ketika Hera bilang padaku, "Aku berharap Rio menyadari perasaanku, kalaupun tidak bisa, aku tidak apa-apa." begitu kalimat yang selalu aku ingat. "Kamu bisa kasih aku alamat kosnya Hera?" pinta Rio tiba-tiba hatiku seperti tersambar petir. Berat hati ini memberikan alamat itu, tapi bagaimana lagi.. demi Hera, apapun aku lakukan walaupun aku yang sakit, walaupun hati ini sebenarnya perih. Tapi ketahuilah, ini adalah bukti bahwa aku mencintaimu, Hera.. sangat mencintaimu...
Bersambung....
Kini bintang-bintang yang bertaburan dilangit itu akan menjadi saksi bahwa aku mencintaimu. Walaupun rasa itu hanya di dalam hati dan tidak akan pernah aku utarakan. Tapi aku benar-benar tulus. "Mbak.." panggilku lirih. "Apa?" tanya Hera sembari menoleh ke arahku. "Mungkin ini yang terakhir, setelah aku pulang, aku akan fokus UN. Itu artinya kita bakalan jarang kayak gini lagi.." ucapku tertunduk. Terlihat ada goresan sedih di bibirnya tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum. "Semangat adikku. Ucapnya memberi semangat."
Hera menyandarkan kepalanya di bahuku, memandang hamparan laut lepas dan bintang-bintang yang menghiasi suasana malam ini. "Mbak, tidur di tenda gih.." bujukku melihat Hera yang sudah mulai mengantuk. "Lah kamu?" tanyanya. "Aku nggak tidur lah, kan aku laki-laki. Nah laki-laki harus menjaga perempuannya." jawabku. "Enggak. Pokoknya kamu harus tidur entar malem." protesnya. "Emm.. mbak duluan aja, ntar aku nyusul." jawabku. Hera kemudian pergi dan masuk ke dalam tenda. Aku menulis FH di pasir menggunakan jari telunjukku, tapi tulisan itu terhapus oleh ombak. Aku masih berada di bibir pantai, merenungi perasaanku. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan Hera. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan orang yang jelas-jelas mencintai orang lain. Aku beranjak menuju teda, rupanya Hera sudah tertidur pulas. Ku dekati wajahnya dan kupandangi sosok wanita cantik yang membuatku begitu mencintainya sekaligus membuatku terluka. Terasa hembusan nafasnya yang lembut mengenai wajahku. Aku yang semakin tergoda, berusaha mendekatkan wajahku lebih dekat lagi ke wajahnya. Aku tergoda dengan bibirnya yang manis itu, yang selalu mengomel cerewet. Ketika bibirku sudah berada sepersekian centi dari bibirnya, aku menjauhkan wajahku dari wajahnya. Ini salah! Bukan seperti ini cara mencintai wanita. Hera yang pernah bilang akan menjaga tubuhnya untuk suaminya kelak, aku tidak mungki menodainya walaupun hanya sebatas berciuman. Aku memutuskan berbaring di samping Hera dan membelakanginya demi mengusir dorongan yang tidak aku inginkan. Selamat malam Hera... Selamat tidur...
Seseorang mengoleng-olengkan tubuhku, "Fahmi bangun.." suara itu lebih lembut dari biasanya. Hera sudah nampak segar hari ini, melihat wajahnya yang sekarang ada di depan wajahku, membuatku ingat ketika aku terjebak dalam nafsu, tapi syukurlah aku bisa menahannya. Dan ini caraku mencintainya, menjaganya. Kami segera berkemas-kemas dan kembali ke kos sekaligus aku berpamitan pulang. Ada perasaan berat ketika aku harus meninggalkannya sendiri, tapi aku harus pulang. Demi UN dan demi kamu, Hera Yudhistira. Jaga dirimu baik-baik...
****
Sepulang sekolah, ku belokkan motorku ke kafe, tempat dimana aku dan Hera bersama dulu. Sendiri, mengenang sosok kakak yang aku cintai. "Fahmi!" seseorang menyapaku. Seseorang itu kemudian duduk dihadapanku, dia adalah Rio. "Kabar kamu gimana?" tanya Rio. "Aku baik. Mas Rio sendiri?" tanyaku balik. "Aku juga baik." jawabnya. Rio terlihat gugup, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. "Bagaimana kabar Hera?" tanyanya kemudian. "Baik. Tumben nanyain mas?" tanyaku penasaran. "Enggak.. cuma pengen tahu kabar dia aja." jawabnya. Apa mungkin perkataan Hera benar bahwa Rio akan menyadari perasaannya suatu saat nanti, dan inilah saatnya. Ada sedikit rasa tak rela, tapi ini yang di inginkan Hera. Bisa lebih dekat dengan Rio adalah impiannya selama tiga tahun. Aku tidak mungkin membentengi sesuatu yang di idam-idamkan Hera. Aku masih ingat ketika Hera bilang padaku, "Aku berharap Rio menyadari perasaanku, kalaupun tidak bisa, aku tidak apa-apa." begitu kalimat yang selalu aku ingat. "Kamu bisa kasih aku alamat kosnya Hera?" pinta Rio tiba-tiba hatiku seperti tersambar petir. Berat hati ini memberikan alamat itu, tapi bagaimana lagi.. demi Hera, apapun aku lakukan walaupun aku yang sakit, walaupun hati ini sebenarnya perih. Tapi ketahuilah, ini adalah bukti bahwa aku mencintaimu, Hera.. sangat mencintaimu...
Bersambung....
Jumat, 10 Oktober 2014
Cinta Dalam Hati part 1
Dunia Hera hanya terfokus pada study dan karier. Cinta? Haha Hera adalah type wanita paling keras kepala, dia rela menunggu orang yang tidak mencintainya dalam waktu yang sangat lama. Hari itu Aku sengaja mengunjungi kos-kosan Hera, dan lihatlah kamarnya begitu berantakan. Buku-buku kuliahnya berserakan dimana-mana, temboknya penuh kertas bertuliskan huruf hangeul, selimut yang belum dilipat dan spreinya yang berantakan, astaga! ini lebih mirip kapal pecah! Aku merapihkan sprei dan melipat selimutnya, kamarnya sepi mungkin dia sedang mandi. Ya sudahlah, hitung-hitung bikin sureprize. Apa ini? Aku mengambil sebuah benda disamping kasur. Bocah ini benar-benar tidak punya malu, menaruh bra-nya disebelah kasur. "Fahmi!!" teriak Hera dari pintu, aku pun menoleh segera dengan bra-nya yang masih ditanganku. Dia masih terbalut handuk pink bermotif HelloKitty. "Ngapain disini?" tanyanya sambil melipat tangan di depan dada. "Main lah mbak.. kan udah lama aku nggak kesini." sangkalku. "Maksud mbak, itu ngapain kamu pegang itu?" tanyanya lagi dengan muka merah padam bercampur malu sembari menunjuk barang ditanganku. "Siapa suruh naruh benda keramat disebelah kasur." sangkalku lagi tak mau kalah. "Keluar dulu, aku mau ganti baju." dia mendorongku keluar dan menutup pintu. "Mbak bra-nya!" teriakku dari luar. Dia membuka pintu dan mengambil bra-nya dari tanganku. Hahaha menggoda bocah ini sungguh mengasyikkan. Tak lama kemudian, dia membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. "Mau sarapan apa?" tawarnya. "Apa aja deh yang penting kenyang." jawabku sekenanya. "Okey, tapi syaratnya bantuin beres-beres kamar dulu." Ahhh... padahal perutku sudah mengaung-ngaung kelaparan. Aku membereskan buku-bukunya yang berserakan, sedangkan dia memasak makanan untuk sarapan. setelah semuanya selesai, dia menghampiriku dengan membawa makanan dan dua cangkir energen. "Gimana kabar Rio? Katanya dia masuk keperawatan UNDIP ya?" tanyanya begitu memberikan secangkir energen untukku. "Iya mbak. dia mah baik-baik aja." jawabku. "Masih sama Dinda?" tanyanya lagi. "Sejak angkatan mbak lulus, mereka lost contac deh kayaknya. Aku juga nggak tahu jelas sih." jawabku. Hera manggut-manggut. "Kamu sendiri setelah lulus mau kemana?" tanyanya kembali sembari menyantap makanannya. "Di UGM ah kayak mbak. Ngekosnya juga cari yang deket sini, biar kalo aku laper bisa langsung capcus kesini.. hahah." candaku. "Wuu.. enak aja! Tapi not that all sih, mbak malah seneng bisa deket lagi sama adek mbak yang nakal ini." candanya kembali. Dia tertawa, tawa yang aku rindukan selama ini. Enta kenapa seperti ada yang menggores hatiku begitu aku mendengar kalimat keluar dari mulut Hera bahwa dia hanya menganggapku sebagai adiknya. Aku tahu dan aku sadar, Hera masih tetap mencintai Rio sampai kapanpun dan sulit bagi siapapun menyingkirkan Rio dari hatinya, termasuk aku. Tapi aku yakin, suatu saat dia akan sadar dengan perasaanku. Aku ingat sesuatu dari dalam tas, pemberian dari Ibuku untuk Hera. "Ini ada titipan dari Ibuku." aku menyerahkan sebuah bingkisan yang akupun tak tahu apa isinya. Hera membukanya, dan mendapati isi dari bungkusan itu adalah bantal bermotif HelloKitty. "Wahh si Ibuk tahu aja aku pengen apa." ucapnya senang. Dia segera menelpon Ibuku demi mengucapkan terimakasih. Ya, Ibuku adalah Ibunya, dan Ibunya adalah Ibuku. Walaupun bukan saudara, tapi keluargaku dan keluarga Hera sudah saling kenal. Jadi, keluarganya adalah keluargaku, dan keluargaku juga keluarganya. "Aku heran, aku yang anak kandung tapi Ibuku lebih sayang sama kamu, mbak." ucapku tanpa ada perasaan iri, karena aku sudah tahu alasannya. "Haha.. lagian kamu anak tunggal, cowok lagih. Ibumu kan juga pengen punya anak cewek kali.." jawabnya sembari menjulurkan lidah ke arahku. Aku membereskan alat makan dan mencucinya sedangkan dia berdandan di depan cermin. Tanpa berdandanpun, bagiku kamu sudah cantik mbak.. batinku. "Ada kuliah pagi mbak?" tanyaku. "Iya nih. Kamu jagain kos-kosan mbak ya. Kalo mau nonton TV tinggal nyalain aja, kalo mau ngegame itu ada laptop di meja, kalo laper cari sendiri ye.." jawabnya sebari membakai bedak dan lipstik sebagai sentuhan terakhir. "Iya.. kayak nggak tahu aja Fahmi kalo lagi disini!" jawabku. "Ya udah, mbak brangkat dulu ye! Bye.." Pamitnya sambil tergesa-gesa memakai sepatu kemudian ngeloyor pergi. Bosan nonton TV, aku meraih laptop untuk bermain game tapi aku lebih tertarik dengan buku diary disebelahnya. Baca nggak ya? Rupanya rasa penasaranku lebih besar, jadi aku memutuskan untuk membacanya. Seperti yang aku duga, semua berisi tentang perasaannya pada Rio. Kalimat yang indah dalam catatannya adalah "Ada saatnya seseorang berhenti mengharapkan apa yang dia inginkan, bukan karena dia telah mendapatkan yang lain, tapi karena dia sadar orang yang dia harapkan tak mengharapkannya". Apa itu artinya Hera mulai berhenti mencintai Rio? Ku balik lebar demi lembar berikutnya. Semakin aku melanjutkan membaca, hatiku terasa nyeri. Tapi entah kenapa aku justru terus membacanya hingga lembar terakhir. Di lembar terakhir itu tertulis Fahmi. Apa?! Fahmi? Itu kan namaku. Akupun membacanya...
Dear Diary,
Akhir-akhir ini aku merasa kesepian. Aku sadar kalo Rio nggak akan pernah melihatku. Tapi bukan itu masalahnya, aku mah udah kebal kalo itu. Tapi ini berhubungan sama Fahmi. Aku merindukan tawanya, senyumannya dan perhatiannya. Aku juga merindukan saat dia memanggilku "mbak" dengan suaranya yang alay itu. Fahmi, hidupku terasa kosong tanpamu. Aku berharap di minggu ini kamu datang ke kos-kosanku dan kita jalan bareng, makan bareng, merapikan kamar bareng, mencuci selimut bareng. Jalanku untuk melupakan Rio akan semakin mudah kalo kamu disisihku. Aku berharap kita bisa ke pantai parangtritis berdua dan camping disana. Tapi kapan ya? Fahmi.. aku kangen kamu. Kangen sosok adik yang memperlakukan aku seperti tuan putri.
Aku tersenyum membaca catatan lembar terakhir ini. Sebesar-besarnya rasa cinta kepada Rio, tidak bisa mengalahkan rasa sayangnya padaku. Aku yakin itu. Ku lihat tanggal catatannya itu pada 29 Oktober 2014, dan sekarang tanggal 1 November. Itu artinya dia menulis catatan ini tiga hari yang lalu, dan masih dalam minggu ini.
Bersambung....
Dear Diary,
Akhir-akhir ini aku merasa kesepian. Aku sadar kalo Rio nggak akan pernah melihatku. Tapi bukan itu masalahnya, aku mah udah kebal kalo itu. Tapi ini berhubungan sama Fahmi. Aku merindukan tawanya, senyumannya dan perhatiannya. Aku juga merindukan saat dia memanggilku "mbak" dengan suaranya yang alay itu. Fahmi, hidupku terasa kosong tanpamu. Aku berharap di minggu ini kamu datang ke kos-kosanku dan kita jalan bareng, makan bareng, merapikan kamar bareng, mencuci selimut bareng. Jalanku untuk melupakan Rio akan semakin mudah kalo kamu disisihku. Aku berharap kita bisa ke pantai parangtritis berdua dan camping disana. Tapi kapan ya? Fahmi.. aku kangen kamu. Kangen sosok adik yang memperlakukan aku seperti tuan putri.
Aku tersenyum membaca catatan lembar terakhir ini. Sebesar-besarnya rasa cinta kepada Rio, tidak bisa mengalahkan rasa sayangnya padaku. Aku yakin itu. Ku lihat tanggal catatannya itu pada 29 Oktober 2014, dan sekarang tanggal 1 November. Itu artinya dia menulis catatan ini tiga hari yang lalu, dan masih dalam minggu ini.
Bersambung....
Langganan:
Postingan (Atom)