Dunia Hera hanya terfokus pada study dan karier. Cinta? Haha Hera adalah type wanita paling keras kepala, dia rela menunggu orang yang tidak mencintainya dalam waktu yang sangat lama. Hari itu Aku sengaja mengunjungi kos-kosan Hera, dan lihatlah kamarnya begitu berantakan. Buku-buku kuliahnya berserakan dimana-mana, temboknya penuh kertas bertuliskan huruf hangeul, selimut yang belum dilipat dan spreinya yang berantakan, astaga! ini lebih mirip kapal pecah! Aku merapihkan sprei dan melipat selimutnya, kamarnya sepi mungkin dia sedang mandi. Ya sudahlah, hitung-hitung bikin sureprize. Apa ini? Aku mengambil sebuah benda disamping kasur. Bocah ini benar-benar tidak punya malu, menaruh bra-nya disebelah kasur. "Fahmi!!" teriak Hera dari pintu, aku pun menoleh segera dengan bra-nya yang masih ditanganku. Dia masih terbalut handuk pink bermotif HelloKitty. "Ngapain disini?" tanyanya sambil melipat tangan di depan dada. "Main lah mbak.. kan udah lama aku nggak kesini." sangkalku. "Maksud mbak, itu ngapain kamu pegang itu?" tanyanya lagi dengan muka merah padam bercampur malu sembari menunjuk barang ditanganku. "Siapa suruh naruh benda keramat disebelah kasur." sangkalku lagi tak mau kalah. "Keluar dulu, aku mau ganti baju." dia mendorongku keluar dan menutup pintu. "Mbak bra-nya!" teriakku dari luar. Dia membuka pintu dan mengambil bra-nya dari tanganku. Hahaha menggoda bocah ini sungguh mengasyikkan. Tak lama kemudian, dia membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. "Mau sarapan apa?" tawarnya. "Apa aja deh yang penting kenyang." jawabku sekenanya. "Okey, tapi syaratnya bantuin beres-beres kamar dulu." Ahhh... padahal perutku sudah mengaung-ngaung kelaparan. Aku membereskan buku-bukunya yang berserakan, sedangkan dia memasak makanan untuk sarapan. setelah semuanya selesai, dia menghampiriku dengan membawa makanan dan dua cangkir energen. "Gimana kabar Rio? Katanya dia masuk keperawatan UNDIP ya?" tanyanya begitu memberikan secangkir energen untukku. "Iya mbak. dia mah baik-baik aja." jawabku. "Masih sama Dinda?" tanyanya lagi. "Sejak angkatan mbak lulus, mereka lost contac deh kayaknya. Aku juga nggak tahu jelas sih." jawabku. Hera manggut-manggut. "Kamu sendiri setelah lulus mau kemana?" tanyanya kembali sembari menyantap makanannya. "Di UGM ah kayak mbak. Ngekosnya juga cari yang deket sini, biar kalo aku laper bisa langsung capcus kesini.. hahah." candaku. "Wuu.. enak aja! Tapi not that all sih, mbak malah seneng bisa deket lagi sama adek mbak yang nakal ini." candanya kembali. Dia tertawa, tawa yang aku rindukan selama ini. Enta kenapa seperti ada yang menggores hatiku begitu aku mendengar kalimat keluar dari mulut Hera bahwa dia hanya menganggapku sebagai adiknya. Aku tahu dan aku sadar, Hera masih tetap mencintai Rio sampai kapanpun dan sulit bagi siapapun menyingkirkan Rio dari hatinya, termasuk aku. Tapi aku yakin, suatu saat dia akan sadar dengan perasaanku. Aku ingat sesuatu dari dalam tas, pemberian dari Ibuku untuk Hera. "Ini ada titipan dari Ibuku." aku menyerahkan sebuah bingkisan yang akupun tak tahu apa isinya. Hera membukanya, dan mendapati isi dari bungkusan itu adalah bantal bermotif HelloKitty. "Wahh si Ibuk tahu aja aku pengen apa." ucapnya senang. Dia segera menelpon Ibuku demi mengucapkan terimakasih. Ya, Ibuku adalah Ibunya, dan Ibunya adalah Ibuku. Walaupun bukan saudara, tapi keluargaku dan keluarga Hera sudah saling kenal. Jadi, keluarganya adalah keluargaku, dan keluargaku juga keluarganya. "Aku heran, aku yang anak kandung tapi Ibuku lebih sayang sama kamu, mbak." ucapku tanpa ada perasaan iri, karena aku sudah tahu alasannya. "Haha.. lagian kamu anak tunggal, cowok lagih. Ibumu kan juga pengen punya anak cewek kali.." jawabnya sembari menjulurkan lidah ke arahku. Aku membereskan alat makan dan mencucinya sedangkan dia berdandan di depan cermin. Tanpa berdandanpun, bagiku kamu sudah cantik mbak.. batinku. "Ada kuliah pagi mbak?" tanyaku. "Iya nih. Kamu jagain kos-kosan mbak ya. Kalo mau nonton TV tinggal nyalain aja, kalo mau ngegame itu ada laptop di meja, kalo laper cari sendiri ye.." jawabnya sebari membakai bedak dan lipstik sebagai sentuhan terakhir. "Iya.. kayak nggak tahu aja Fahmi kalo lagi disini!" jawabku. "Ya udah, mbak brangkat dulu ye! Bye.." Pamitnya sambil tergesa-gesa memakai sepatu kemudian ngeloyor pergi. Bosan nonton TV, aku meraih laptop untuk bermain game tapi aku lebih tertarik dengan buku diary disebelahnya. Baca nggak ya? Rupanya rasa penasaranku lebih besar, jadi aku memutuskan untuk membacanya. Seperti yang aku duga, semua berisi tentang perasaannya pada Rio. Kalimat yang indah dalam catatannya adalah "Ada saatnya seseorang berhenti mengharapkan apa yang dia inginkan, bukan karena dia telah mendapatkan yang lain, tapi karena dia sadar orang yang dia harapkan tak mengharapkannya". Apa itu artinya Hera mulai berhenti mencintai Rio? Ku balik lebar demi lembar berikutnya. Semakin aku melanjutkan membaca, hatiku terasa nyeri. Tapi entah kenapa aku justru terus membacanya hingga lembar terakhir. Di lembar terakhir itu tertulis Fahmi. Apa?! Fahmi? Itu kan namaku. Akupun membacanya...
Dear Diary,
Akhir-akhir ini aku merasa kesepian. Aku sadar kalo Rio nggak akan pernah melihatku. Tapi bukan itu masalahnya, aku mah udah kebal kalo itu. Tapi ini berhubungan sama Fahmi. Aku merindukan tawanya, senyumannya dan perhatiannya. Aku juga merindukan saat dia memanggilku "mbak" dengan suaranya yang alay itu. Fahmi, hidupku terasa kosong tanpamu. Aku berharap di minggu ini kamu datang ke kos-kosanku dan kita jalan bareng, makan bareng, merapikan kamar bareng, mencuci selimut bareng. Jalanku untuk melupakan Rio akan semakin mudah kalo kamu disisihku. Aku berharap kita bisa ke pantai parangtritis berdua dan camping disana. Tapi kapan ya? Fahmi.. aku kangen kamu. Kangen sosok adik yang memperlakukan aku seperti tuan putri.
Aku tersenyum membaca catatan lembar terakhir ini. Sebesar-besarnya rasa cinta kepada Rio, tidak bisa mengalahkan rasa sayangnya padaku. Aku yakin itu. Ku lihat tanggal catatannya itu pada 29 Oktober 2014, dan sekarang tanggal 1 November. Itu artinya dia menulis catatan ini tiga hari yang lalu, dan masih dalam minggu ini.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar