Aku masih bertanya-tanya, kenapa Hera menuliskan namaku di diarynya. Aku meletakkan buku diary itu di tempat semula, kemudian tertidur di atas kasur empuk milik Hera. "Heh.. bangun woi!!" tiba-tiba suara yang lebih dahsyat dari suara geledek itu menyambar gendang telingaku. Rupanya makhluk cantik itu sudah pulang dari kuliahnya. Jam menunjukkan pukul 11.30, perutku sudah terasa keroncongan, tapi aku ingat sesuatu di diary itu. "Mbak, main ke parangtritis yuk!" ajakku. Dia memicingkan sebelah matanya. Karena takut dicurigai, aku segera mencari-cari alasan. "Refreshing sebelum UN, mbak." Hera hanya tersenyum senang. Senyuman yang penuh arti dan membuat dadaku serasa mengembang penuh kebahagiaan. Walaupun dia kakak kelasku, tapi uurku lebih tua darinya dan hanya aku yang tahu. Hera tidak tahu kalau umurku lebih tua darinya. Saat aku berulang tahun, dia selalu bertanya berapa umurku tapi aku tidak menjawabnya. Setelah semuanya siap packing, aku dan Hera meluncur ke Parangtritis. Kami banyak mengobrol di mobil, tentunya menanyakan tentang Rio. Rio dan Rio.. serasa kepalaku ingin pecah mendengar nama itu keluar dari mulut Hera. Sudahlah, yang terpenting aku harus mewujudkan impian di diarynya. Malam itu kami duduk di tepian pantai, sesekali ombak datang menyentuh jari-jemari kaki. Melihatmu ada di sampingku saat ini, membuatku merasa damai. "Senyum-senyum sendiri.." godaku melihat Hera yang tersenyum, mungkin sedang membayangkan sesuatu. "Romantis ya.." celetuknya. Aku pun ikut tersenyum. "Andai kamu itu Rio, pasti...." ucapnya menggantung. "Tapi apa?" tanyaku sedikit kecewa. "Enggak.." jawabnya menggeleng. Aku meninggalkan Hera sendiri di tepi pantai. Aku berjalan menuju tenda dan membakar ikan untuk makan malam ini. Aku merasa sangat sakit, walaupun Hera sedang membayangkan bahwa aku ini Rio, aku tidak apa-apa. Tapi kenapa di buku diarynya itu tertulis namaku, bukan nama Rio? Setelah ikan matang, aku kembali duduk disampingnya sembari membawa ikan bakar. "Jangan terlalu mengharapkan sesuatu yang sulit terjadi. Rio nggak ada disini." celetukku. "Siapa juga yang ngebayangin Rio." sangkalnya sambil mencuil ikan bakar di tanganku.
Kini bintang-bintang yang bertaburan dilangit itu akan menjadi saksi bahwa aku mencintaimu. Walaupun rasa itu hanya di dalam hati dan tidak akan pernah aku utarakan. Tapi aku benar-benar tulus. "Mbak.." panggilku lirih. "Apa?" tanya Hera sembari menoleh ke arahku. "Mungkin ini yang terakhir, setelah aku pulang, aku akan fokus UN. Itu artinya kita bakalan jarang kayak gini lagi.." ucapku tertunduk. Terlihat ada goresan sedih di bibirnya tapi dia berusaha untuk tetap tersenyum. "Semangat adikku. Ucapnya memberi semangat."
Hera menyandarkan kepalanya di bahuku, memandang hamparan laut lepas dan bintang-bintang yang menghiasi suasana malam ini. "Mbak, tidur di tenda gih.." bujukku melihat Hera yang sudah mulai mengantuk. "Lah kamu?" tanyanya. "Aku nggak tidur lah, kan aku laki-laki. Nah laki-laki harus menjaga perempuannya." jawabku. "Enggak. Pokoknya kamu harus tidur entar malem." protesnya. "Emm.. mbak duluan aja, ntar aku nyusul." jawabku. Hera kemudian pergi dan masuk ke dalam tenda. Aku menulis FH di pasir menggunakan jari telunjukku, tapi tulisan itu terhapus oleh ombak. Aku masih berada di bibir pantai, merenungi perasaanku. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan Hera. Kenapa aku bisa jatuh cinta dengan orang yang jelas-jelas mencintai orang lain. Aku beranjak menuju teda, rupanya Hera sudah tertidur pulas. Ku dekati wajahnya dan kupandangi sosok wanita cantik yang membuatku begitu mencintainya sekaligus membuatku terluka. Terasa hembusan nafasnya yang lembut mengenai wajahku. Aku yang semakin tergoda, berusaha mendekatkan wajahku lebih dekat lagi ke wajahnya. Aku tergoda dengan bibirnya yang manis itu, yang selalu mengomel cerewet. Ketika bibirku sudah berada sepersekian centi dari bibirnya, aku menjauhkan wajahku dari wajahnya. Ini salah! Bukan seperti ini cara mencintai wanita. Hera yang pernah bilang akan menjaga tubuhnya untuk suaminya kelak, aku tidak mungki menodainya walaupun hanya sebatas berciuman. Aku memutuskan berbaring di samping Hera dan membelakanginya demi mengusir dorongan yang tidak aku inginkan. Selamat malam Hera... Selamat tidur...
Seseorang mengoleng-olengkan tubuhku, "Fahmi bangun.." suara itu lebih lembut dari biasanya. Hera sudah nampak segar hari ini, melihat wajahnya yang sekarang ada di depan wajahku, membuatku ingat ketika aku terjebak dalam nafsu, tapi syukurlah aku bisa menahannya. Dan ini caraku mencintainya, menjaganya. Kami segera berkemas-kemas dan kembali ke kos sekaligus aku berpamitan pulang. Ada perasaan berat ketika aku harus meninggalkannya sendiri, tapi aku harus pulang. Demi UN dan demi kamu, Hera Yudhistira. Jaga dirimu baik-baik...
****
Sepulang sekolah, ku belokkan motorku ke kafe, tempat dimana aku dan Hera bersama dulu. Sendiri, mengenang sosok kakak yang aku cintai. "Fahmi!" seseorang menyapaku. Seseorang itu kemudian duduk dihadapanku, dia adalah Rio. "Kabar kamu gimana?" tanya Rio. "Aku baik. Mas Rio sendiri?" tanyaku balik. "Aku juga baik." jawabnya. Rio terlihat gugup, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. "Bagaimana kabar Hera?" tanyanya kemudian. "Baik. Tumben nanyain mas?" tanyaku penasaran. "Enggak.. cuma pengen tahu kabar dia aja." jawabnya. Apa mungkin perkataan Hera benar bahwa Rio akan menyadari perasaannya suatu saat nanti, dan inilah saatnya. Ada sedikit rasa tak rela, tapi ini yang di inginkan Hera. Bisa lebih dekat dengan Rio adalah impiannya selama tiga tahun. Aku tidak mungkin membentengi sesuatu yang di idam-idamkan Hera. Aku masih ingat ketika Hera bilang padaku, "Aku berharap Rio menyadari perasaanku, kalaupun tidak bisa, aku tidak apa-apa." begitu kalimat yang selalu aku ingat. "Kamu bisa kasih aku alamat kosnya Hera?" pinta Rio tiba-tiba hatiku seperti tersambar petir. Berat hati ini memberikan alamat itu, tapi bagaimana lagi.. demi Hera, apapun aku lakukan walaupun aku yang sakit, walaupun hati ini sebenarnya perih. Tapi ketahuilah, ini adalah bukti bahwa aku mencintaimu, Hera.. sangat mencintaimu...
Bersambung....
대백. Keren banget Miss. Layak jd novel tuh.
BalasHapus