Kamis, 30 Oktober 2014

Cinta Dalam Hati part 4 (Trilogi)

6 November 2014
06.35 a.m
 Pagi yang cerah di kota Temanggung. Burung-burung yang berkicau riang itu membangunkan Hera dari tidur nyenyak di rumahnya. "Pagi ma.." sapa Hera kepada mamanya begitu turun ke meja makan untuk sarapan bersama keluarga. "Pagi sayang." Jawab sang mama. "Papa mana?" Tanya Hera menyadari ketidakberadaan papanya. "Papa kamu kan keluar kota. Oiya, kamu di rumah berapa hari?" Tanya mama kemudian. "Besok sore aku balik ke Jogja ma. Soalnya ada tambahan kuliah." Jawab Hera disusul wajah manyun dari mamanya.  Hera pun memeluk mamanya dan membuat senyuman kembali merekah. "Nanti anterin kue ke Bu Rika ya." Pinta sang mama kepada Hera. Hera tak sanggup menolak karena Bu Rika adalah ibunya Fahmi. "Coba kamu lihat di garasi ada apa." Ucap sang mama membuat Hera penasaran. Dia melangkahkan kakinya menuju garasi. Dan ketika dia membuak pintu, terpampang mobil pink bermotif HelloKitty ada di hadapannya.
Siang itu Hera sengaja datang ke rumah Fahmi untuk mengantar kue dan menengok Fahmi juga. Seperti biasa, Hera langsung masuk ke kamar Fahmi dan tidur-tiduran disana. Dia sudah tidak sabar untuk menceritakan kebahagiaan yang ia rasakan. Begitu Fahmi membuka pintu kamarnya, dia mendapati makhluk cantik sudah nangkring di tempat tidurnya yang rapi. "Selamat siang adekku, baru pulang sekolah ya?" Sapa Hera dengan wajah sok imut. Fahmi menyuringkan wajahnya. "Mbak kesini mau nagih kado ulang tahun?" Tanya Fahmi to the point. "Ya ampun, aku udah dapet kado dari Tuhan kali.." ucap Hera berbunga-bunga. "Apa?" Tanya Fahmi penasaran. "Seseorang yang special." Jawab Hera. Fahmi tersenyum dan mengira orang special itu adalah dirinya. "Siapa?" Pancing Fahmi. "Rio." Jawab Hera senang. Sontak Fahmi sangat terkejut dan terlihat guratan kecewa sakit hati dari wajahnya, tapi Hera tak menyadari itu. "Ntar sore aku mau pergi sama Rio. Pilihin aku baju ya.." pinta Hera sambil mengeluarkan baju-bajunya dari dalam tas. Dengan berat hati, Fahmi menganggukkan kepalanya. Ini yang membuat Hera bahagia, bukan Fahmi atau siapapun tapi Rio, hanya Rio.
***
Mobil berwarna merah mengkilap itu memasuki halaman rumah Rio. "Rio cuma milik aku." Gumam Dinda sebelum masuk ke dalam rumah. Dinda kemudian masuk dan mencari keberadaan Rio. Ketika itu Rio terlihat merapikan dirinya untuk pergi bersama Hera. "Mau kemana?" Tanya Dinda begitu melihat Rio menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya. "Bukan urusan kamu." Jawab Rio ketus. "Jelas ini urusanku lah sayang, kamu kan calon suamiku." Jawab Dinda sembari memeluk Rio dari belakang. Rio melepaskan pelukan Dinda dengan kasar, hingga Dinda terhempas ke tepi ranjang. "Mimpi kamu?" Ejek Rio. "Ohh kamu nggak kasihan sama jabang bayi di dalam rahimku?" Balas Dinda sembari mengelus perutnya. "Buat apa? Dia bukan anakku." Ucap Rio menekan. "Rupanya kamu udah tahu. Ini akibat kenapa kamu ninggalin aku dulu." Ucap Dinda sembari beranjak dan berdiri di hadapan Rio. "Ayah kamu adalah tipe orang yang menjaga kehormatan keluarga dan nama baiknya. Apalagi ayah kamu masih keturunan keraton. Kalau semua orang tahu bahwa anaknya menghamili seorang wanita, hahaha betapa malunya dia. Jadi, mudah banget buat aku manfaatin ayah kamu." Lanjut Dinda membuat Rio serasa ingin membunuh wanita di hadapannya. "Wow hebat! Sandiwara yang spektakuler!" Puji Rio sinis. "Saat pernikahan kita nanti, jangan berani kabur atau keluarga kamu menanggung malu seumur hidup." Ancam Dinda kemudian pergi meninggalkan Rio yang geram dengan rencana liciknya. Rio menghantap cermin rias di sampingnya hingga pecah dan darah bercucuran di jarinya. Karena dia ingat ada janji dengan Hera, dia segera melajukan mobilnya ke rumah Hera. Tapi rupanya Hera tidak ada di rumah dan kebetulan sekali tiba-tiba sms Hera masuk bahwa dirinya sekarang ada di rumah Fahmi.
***
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Hera begitu tahu bahwa tangan Rio sedang terluka. "Ohh tadi kena pecahan kaca." Jawab Rio sembari menyembunyikan tangannya yang berdarah. "Ini nggak boleh dibiarin, aku beli obat dulu." Hera kemudian meninggalkan Rio sendiri di restoran itu. Setelah Hera kembali, ia segera mengobati tangn Rio. "Besok ulang tahunmu kan?" Tanya Rio sambil menahan rasa perih di tangannya. "Iya." Jawab Hera singkat dan fokus mengobati tangan Rio. "Mau minta kado apa?" Tanya Rio antusias. Hera menggeleng malu. "Kalau hadiahnya aku sebagai pacar kamu bahkan calon suamimu bagaimana?" Tanya Rio membuat Hera terkejut. "Aku terima." Jawab Hera sambil menyunggingkan senyum di bibirnya.
Sementara itu, Fahmi melajukan mobilnya untuk menemui Dinda di sebuah cafe. "Ada apa?" Tanya Dinda begitu melihat batang hidung Fahmi. "Aku mau ngobrol serius tentang aku, kamu, Rio dan Hera." Jawab Fahmi. "Hera? Kenapa Hera?" Tanya Dinda terheran. "Hera dan Rio sekarang semakin dekat." Jawab Fahmi membuat Dinda terbelalak. "Jadi aku minta tolong sama kamu. Tolong kamu pergi dari kehidupan mereka." Lanjut Fahmi. "Apa? Pergi? Kamu pikir aku ini apa hah?! Sampah buat mereka? Dulu, Rio milih aku daripada Hera. Sekarang dia milih Hera wanita yang masih suci dan Rio ninggalin aku sedangkan aku mengandung anaknya! Trus kamu minta buat aku pergi?" Kini emosi Dinda makin memucak. "Iya. Kamu harus pergi." Jawab Fahmi kemudian meninggalkan Dinda yang terus memakinya. Itulah cara Fahmi mencintai Hera, dia rela melakukan apapun demi kebahagiaan orang yang dia cintai. Dia berhenti di sebuah toko kue, tiba-tiba Hera menelponnya.
***
Rio memberhentikan mobilnya di depan rumah Hera. "Makasih buat hari ini." Ucap Rio tersenyum seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Hera. Hampir saja Hera terlarut ke dalam ciuman Rio tapi tiba-tiba dia terbayang sosok yang membuatnya untuk mendorong tubuh Rio menjauh darinya. Rio sedikit malu karena Hera menolak ciuman darinya. "Besok aku antar kamu balik ke Jogja." Ucap Rio mengalihkan suasana. Hera pun mengangguk kemudian turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Entah kenapa ada perasaan aneh di dalam diri Hera. Bukankah dia menjaga bibirnya hanya untuk Rio selama ini, dan berharap Rio adalah first kissnya. Tapi kenapa bayang-bayang Fahmi mengganggunya? Seolah-olah dia tidak mau mengecewakan Fahmi. Hera pun kemudian menelpon Fahmi, dan rupanya Fahmi sekarang ada di danau. Hera segera menyusulnya dengan menggunakan mobil pink yang baru dia dapatkan dari orangtuanya.
"Fahmi!" panggil Hera dari kejauhan. Hera berlari menghampiri Fahmi di tepian danau. "Sekarang jam berapa?" tanya Fahmi begitu Hera sampai di hadapannya. Hera melihat jam di ponsel. "Jam sebelas lebih lima belas." jawab Hera. "Sebentar lagi hari ulang tahun kamu kan mbak?!"     "Iya."   "Yaudah. Kita menghabiskan waktu disini aja." pinta Fahmi dan Hera pun mengangguk. "Fahmi..." panggil Hera lirih. "Apa?" tanyanya. "Tadi Rio mau menciumku." ucap Hera membuat Fahmi menoleh seketika. "Trus?" tanya Fahmi dengan tetap mempertahankan raut muka datar, padahal di dalam hatinya muncul gejolak cemburu. "Aku nolak."jawab Hera singkat. "Kenapa?"     Hera terdiam. Bahkan dia ikut bertanya pada dirinya sendiri, kenapa dia menolaknya. Bukankah itu yang dia inginkan?! "Aku belum siap. Aku kan belum pengalaman, kamu aja tahu kalo Rio cinta pertamaku. Jadi, aku pengen mempersiapkan diri biar first kissku sama Rio special." jawab Hera beralasan. "Trus?" tanya Fahmi memperjelas. "Ini detik-detik pergantian waktu ulang tahunku kan? Jadi, aku mau minta kado dari kamu.."     "Kado apa?"      "Ajari aku berciuman.." pinta Hera dengan kedua tangannya mengatup dibawah dagu.
Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar