5 November 2014
Hari demi hari berlalu, Fahmi dan Hera
mejalani kesibukannya masing-masing. Fahmi yang fokus UN dan Hera yang fokus
dengan kuliahnya. Komunikasi? Walaupun masih berlangsung, tapi tidak sesering
dulu. Begitu pula dengan kehidupan Rio, yang dulu semula baik-baik saja tapi
sekarang benar-benar mengalami banyak masalah setelah putus dengan Dinda 3
bulan yang lalu.
Paarrr!!! Sebuah tamparan dahsyat mendarat di
pipi Rio. Tamparan yang selama ini belum pernah ia dapatkan dari sang Ayah.
“Yah, aku nggak menghamili Dinda. Aku berani sumpah!” ucap Rio menyangkal
tuduhan Ayahnya. “Pokoknya minggu depan kamu harus menikah dengan Dinda,
titik.” Bentak sang Ayah bersikuekuh. Rio kemudian pergi dengan tergesa-gesa.
Dia melajukan mobilnya entah kemana dan pada akhirnya dia bertemu dengan Fahmi
di cafe sekaligus mendapatkan alamat kos Hera. Itulah alasan mengapa Rio sudah
berdiri di depan pintu kamar kos Hera. Rio mengetuk pintu, tak berapa lama pintu itu terbuka. Betapa terkejutnya Hera ketika orang yang selama ini dia harapkan sekarang berada di hadapannya. "Rio." panggil Hera tak percaya. "Aku boleh masuk?" tanya Rio. Hera pun mempersilahkan Rio masuk ke kamarnya. "Mau minum apa?" tawar Hera canggung karena baru pertama kali Rio mengunjunginya. "Apa aja." jawab Rio. Hera kemudian beranjak membuat minuman. Dia menuangkan teh ke dalam cangkir, mengaduk minuman itu sembari benaknya bertanya-tanya, untuk apa Rio kemari? Apa Rio sudah menyadari perasaannya? Begitu pikir Hera. Hera menghampiri Rio dan memberikan teh itu untuknya. "Kabarmu gimana?" tanya Hera memecahkan keheningan. "Aku baik. Kamu?" tanya Rio balik. "Aku juga baik." jawab Hera singkat. Suasanapun kembali hening. Tidak ada percakapan karena suasana yang masih canggung di antara keduanya. Hera yang selama tiga tahun mencintai Rio sedangkan Rio tidak memperdulikannya, sekarang Rio berada di hadapannya. Tentu membuat Hera syok sekaligus senang. "Ada kuliah hari ini?" tanya Rio kemudian. "Enggak. Besok aku pulang, ada acara special soalnya." jawab Hera. "Kalo gitu besok pulangnya barengan aja. Tapi malam ini aku boleh nginep disini nggak?" pinta Rio. "Boleh sih, tapi ini kan satu kamar doang." "Aku tidur di mobil kok. Emm... ke pantai yuk!" Ajak Rio. Hera tersenyum dan mengiyakan ajakannya. Hari itu mereka bersenang-senang di pantai. Harapan yang mustahil terwujud, kini telah Hera rasakan. Itu artinya tidak sia-sia Hera menunggu. Perhatian dari Rio yang selama ini mustahil dia harapkan, sekarang telah menjadi kenyataan.
Matahari mulai membenamkan diri, rasa bahagia yang Hera rasakan ketika bersama Rio masih menggebu-gebu. Saling canda tawa bersama orang yang dicintai, semuanya terasa seperti mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan. "Hera maaf." celetuk Rio di tengah lamunan mereka melihat matahari terbenam. "Why?" tanya Hera. "Aku udah ngebuat kamu nunggu lama. Aku baru sadar kalo disini ada seseorang yang tulus cinta sama aku, wanita baik-baik dan wanita setia itu adalah kamu. Aku seperti laki-laki bodoh, menyia-nyiakan kamu. Jadi, apa perasaan kamu masih kayak yang dulu?" Rio mengutarakan perasaanya, membuat Hera sedikit tercengang. Hera tak bisa berkata-kata. Tiba-tiba dia teringat dengan seseorang yang sempat membawanya ke pantai ini kemarin. Seseorang yang menjadi sandaran ketika dia menangis, seseorang yang selalu bersamanya, seseorang yang menemaninya pergi kemanapun, dan seseorang itu adalah Fahmi. Serasa hati dan logika Hera bertolak belakang. Bukankah ini yang di harapkan Hera selama tiga tahun? Tapi kenapa hatinya seperti ini? Ada perasaan aneh di dalam hatinya. "Iya. Masih." jawab Hera linglung. Rio menyunggingkan senyum di bibirnya seraya memeluk Hera perlahan. Rio membelai lembut rambut lurus Hera, membuat Hera melumer. Walaupun sedari tadi bayang-bayang Fahmi mengganggu pikirannya, tapi pelukan Rio membuatnya luluh. "Ini nggak mimpi kan?" tanya Hera ketika pelukan Rio terlepas. "Enggak.." jawab Rio mantap.
***
Fahmi membolak-balikkan tubuhnya di atas kasur, mencoba untuk memejamkan mata tapi tetap saja ia tak bisa tidur. Bayang-bayang Hera yang selalu mengganggu tidurnya, apalagi tanggal 7 November nanti adalah ulang tahun Hera yang ke 19. Dia ingin memberikan kado special yang akan membuat Hera terkesan. Dia ingin hanya dia satu-satunya laki-laki yang paling special di hari ulang tahunnya, tapi apakah mungkin? Jelas-jelas tadi siang Rio meminta alamat kos Hera, itu artinya ada jalan di antara mereka untuk bersatu. Disaat Fahmi bersikeras mencoba untuk tidur, tiba-tiba ponselnya berdering. Rupanya panggilan masuk dari Dinda. "Ada apa, Din?" tanya Fahmi begitu mengangkat telepon. "Rio ada di rumah kamu?" tanya Dinda dengan tangis terisak yang di buat-buat. "Enggak. Emangnya kenapa?" tanya Fahmi penasaran. "Kalau malam ini kita bisa ketemu, aku bakal ceritain semuanya." jawab Dinda. Telepon pun diputus dan mereka janjian bertemu di salah satu restoran terdekat. Fahmi sangat yakin ini pasti ada hubungannya dengan Hera, dan ia tak mau terjadi apa-apa dengannya. Fahmi akan melindungi Hera dari segala bentuk permasalahan yang timbul dari Rio dan Dinda nantinya. Sesampai di restoran, Fahmi mencari nomor meja yang memang sudah dipesan, kemudian menghampiri meja itu. "Dinda," sapa Fahmi dari belakang, Dinda pun menoleh dan mempersilahkan Fahmi duduk. "Fahmi, aku hamil..." tanpa ditanya terlebih dahulu, Dinda langsung menjelaskan maksud pertemuan mereka. "Siapa yang menghamili kamu?" tanya Fahmi tercengang. "Rio." jawab Dinda lirih. Betapa lebih tercengangnya Fahmi mendengar bahwa yang menghamili Dinda adalah Rio. Tapi sebenarnya, Fahmi tidak sedang mencemaskan Dinda, justru yang ia cemaskan adalah Hera karena dia yakin, pasti sekarang Hera sedang bersama Rio. "Trus Rio gimana?" tanya Fahmi mengorek lebih dalam lagi. "Rio pergi entah kemana. Makanya tadi aku telepon kamu." jawab Dinda. Fahmi masih tidak percaya bahwa Rio bisa melakukan hal sekeji itu, tapi bila manusia sudah dikuasai oleh nafsu apapun memang mudah saja terjadi. Fahmi masih mengunci mulut atas keberadaan Rio yang sekarang sedang bersama Hera. "Tapi dalam minggu depan aku dan Rio akan menikah." celetuk Dinda yang membuat hati Fahmi melega. "Nikah muda?" tanya Fahmi. "Iya lah, kan kasihan baby dalam perut aku.." jawab Dinda sambil mengelus perutnya yang masih rata. "Kamu yakin itu anaknya Rio?" tanya Fahmi memastikan membuat mata Dinda mendelik. "Ya iya lah, aku kan pacarnya." jawab Dinda ketus. Padahal Fahmi tahu kalau mereka sudah putus tiga bulan yang lalu, apa mungkin balikan lagi? Entahlah.. pikir Fahmi. Di sela-sela makan, Dinda mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Rio. Dia menekan sent dan pesan itu berhasil dikirim. Dinda mengembangkan senyum licik, seolah-olah hanya dia pemenangnya...
***
Malam itu, Rio dan Hera masih dalam perjalanan pulang. Ponsel Rio bergetar menerima sms dari Dinda.
From: Dinda
10.18 P.M
Rio, kalau kamu tidak pulang besok, lihat kejutan apa yang bakal kamu lihat di keluarga kamu. Nama baik keluarga kamu, terutama ayah kamu akan hancur sehancur-hancurnya.
Shiiitt... batin Rio mengumpat setelah membaca pesan itu. Padahal dia berniat untuk tidak pulang dan hanya mengantar Hera ke rumahnya. Kesal? Jelas. Kalaupun dia mau, dia ingin membunuh Dinda, tapi dia masih punya hati. Apalagi sekarang ada seseorang yang mencintai dia disampingnya. Rio benar-benar tidak ingin kehilangan Hera...
Bersambung.....
***
Malam itu, Rio dan Hera masih dalam perjalanan pulang. Ponsel Rio bergetar menerima sms dari Dinda.
From: Dinda
10.18 P.M
Rio, kalau kamu tidak pulang besok, lihat kejutan apa yang bakal kamu lihat di keluarga kamu. Nama baik keluarga kamu, terutama ayah kamu akan hancur sehancur-hancurnya.
Shiiitt... batin Rio mengumpat setelah membaca pesan itu. Padahal dia berniat untuk tidak pulang dan hanya mengantar Hera ke rumahnya. Kesal? Jelas. Kalaupun dia mau, dia ingin membunuh Dinda, tapi dia masih punya hati. Apalagi sekarang ada seseorang yang mencintai dia disampingnya. Rio benar-benar tidak ingin kehilangan Hera...
Bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar